Sengketa Sandal di Hajatan
Sengketa Sandal di Hajatan
Desa Antah Berantah – Hajatan sunatan anak Pak RT yang seharusnya meriah dan penuh tawa, malah diwarnai keributan kecil di dekat tumpukan sandal. Penyebabnya? Ya siapa lagi kalau bukan Bu Japir dan Pak Aa, dua tokoh legendaris yang hobi ribut untuk hal-hal yang… tidak penting tapi penting bagi mereka.
Kronologinya Begini…
Selesai makan nasi kebuli dan kue lapis berlapis-lapis, Bu Japir hendak pulang. Tapi saat nyari sendalnya di rak depan, wajahnya langsung berubah seperti ketemu mantan utang:
“Astaghfirullah… Ini sandal saya kok berubah bentuk? Tadi saya datang pakai Swallow, kok pulangnya jadi Swellow?!”
Sendalnya sekarang:
Warna beda
Ukuran beda
Dan... baunya beda banget.
Sambil cemberut, Bu Japir nanya ke tamu-tamu. Tak lama kemudian, muncul Pak Aa yang juga tampak bingung sambil bawa dua sandal beda warna.
“Ini sandal saya jadi sebelah warna merah, sebelah hijau. Saya datang kayak orang waras, pulang kayak Power Rangers!”
Adu Argumen Sambil Disaksikan Tukang Orgen Keduanya mulai saling klaim sandal:
Bu Japir: “Itu sandal saya! Ada bekas kena sambel tumpah waktu buka puasa di rumah Pak Ustaz!”
Pak Aa: “Yang ini juga punya saya! Ada tanda bekas dicakar ayam waktu saya jagain kandang.”
Warga yang dengar cuma bisa ketawa sambil ngefans karena dua-duanya ngotot seperti rebutan jabatan ketua arisan.
Bahkan penyanyi hajatan di panggung nyelutuk:
“Pak Aa, Bu Japir, sendalnya jangan ribut dong... Nanti saya nyanyi lagu ‘Sandal yang Hilang’ lho!”
Ketua RT Ambil Kendali
Melihat suasana makin ramai, Ketua RT pun turun tangan, lengkap dengan peci miring dan suara tenang:
“Kita di hajatan, bukan pengadilan agama. Ini sandal, bukan anak kandung. Mari kita selesaikan dengan musyawarah.”
Setelah diteliti bersama warga (bahkan ada yang ngeluarin kaca pembesar!), akhirnya ditemukan:
Sandal milik Bu Japir ada bekas tusukan garpu (katanya waktu rebutan lontong).
Sandal milik Pak Aa ada coretan “AA 2006” pakai spidol hitam.
Solusi Damai
1. Sandal dikembalikan ke pemilik sah.
2. Warga sepakat: kalau ada hajatan lagi, sandal dimasukkan kantong plastik transparan.
3. Ketua RT akan bikin “Panitia Pengamanan Sandal” dibantu anak-anak Karang Taruna.
Setelah semua beres, Bu Japir dan Pak Aa malah makan bareng lagi di tenda, sambil ketawa bareng.
“Ternyata sandal bisa menyatukan hati yang sempat berselisih,” ujar Pak Aa sambil nyeruput es sirup.
Warga pun sepakat bikin slogan baru:
“Hajatan boleh ramai, sendal jangan saling tukar.”
Dan jangan lupa, sandal bukan kursi rebutan!
Cerita fiktif hanya hiburan.


Komentar via Facebook