Ngakunya Bujangan

Ngakunya Bujangan

Ngakunya Bujangan

Di desa Antah berantah, semua orang tahu satu fakta: Pak Jur sudah tua, sudah ompong, dan sudah punya cucu lima. Tapi entah kenapa, suatu hari ia muncul ke balai desa dengan rambut disemir hitam, pakai jaket kulit imitasi, dan parfum yang menyengat kayak semprotan nyamuk.

Bu Japir (curiga):

“Lho Pak... bapak dandan kayak ABG mau ngelamar jadi penyanyi dangdut ya?”

Pak Jur (senyum manis):

“Bu Japir, mulai hari ini saya kembali ke pasar jodoh. Saya sudah resmi jadi... BUJANGAN INTERNASIONAL!”

Ternyata, Pak Jur lagi PDKT sama janda muda dari desa sebelah, namanya Mbak Desi, penjual es cendol.

Katanya, Pak Jur ngaku:

Umur masih 38 (padahal gigi sudah tinggal 8),

Masih single belum pernah menikah (padahal istrinya ada di dapur masak singkong),

Profesi: Eksportir gado-gado ke Dubai (padahal jual sambal sachetan di warung).

Pak Jur (di depan Mbak Desi):

“Saya belum nikah, Mbak. Dulu banyak yang mau, tapi saya sibuk karier... jadi dikhianati waktu.”

Anak bungsu Pak Jur iseng buka HP bapaknya. Ternyata isinya:

Chat ke Mbak Desi:

"Aku suka perempuan sederhana… yang bisa nerima aku apa adanya. Termasuk gigi palsu."

Foto profil: Pak Jur pakai filter baby face dan tulisannya "Just Vibes, No History."

Suatu hari, saat Pak Jur dan Mbak Desi nongkrong romantis di warung mie ayam, Bu Jur (istrinya yang sah dan senior karate RT) datang bawa ulekan!

Bu Jur (teriak):

“Jadi ini alasannya tiap malam ngaku ronda keliling!? Ronda apa... ronda cinta!?”

Mbak Desi (syok):

“Pak Jur, katanya Bujangan?!”

Pak Jur (gemetar):

“Iya... bujangan... tapi versi reborn...”

Sejak saat itu, warga desa Antah berantah Atas punya peribahasa baru:

“Kalau Pak Jur bilang bujangan, pastikan dulu istrinya gak lagi masak sambal di dapur.”

Dan Pak Jur pun dijuluki:

“Bujangan Bohongan Bersertifikat Nasional.”

Kini Pak Jur insaf, katanya mau jadi motivator cinta untuk duda-duda tersesat.

“Saya salah ngaku bujangan. Tapi salah terbesar saya adalah... lupa hapus chat sebelum istri lihat.”

 

Cerita fiktif hanya hiburan semata.